TIBA-TIBA SUDAH TIBA
duduk di sini
sorot matanya kiri kanan
di depan pelinggih kiwa- tengen
Kau tak lagi mendengar apa yang ingin kaudengar
kau tak lagi gundah lantang ditikam umpatan
tak risau apa pun tentang risau
Kau mengatasi makna
duduk di sini
di panas api
aku ingin tidak merasa bara hati
di dingin air
aku ingin tak gigil nyali
aku akan sempurna rasa
di puncak tertinggi
gunung Agung tidak berpihak
pada terik matahari juga binar bintang dan rembulan
semua sinar menjadi kemilau di vibrasi Besakih
tiba-tiba sudah tiba
berserah di kiwa
berserah di tengen
Ida Bagus Darmasuta, 2007
Welcome
Laman ini saya manfaatkan sebagai ajang "unjuk seni" yaitu, salah satu cara saya untuk menunjukkan apresiasi terhadap kesenian, terutama aktivitas berkesenian di Bali. Sebagai manusia biasa, saya merasa bahwa saya tidak mungkin melepaskan diri dari seni. Saya tidak menyangka tiba-tiba timbul dorongan untuk melukis, sekali waktu timbul keinginan untuk membuat ukiran, patung, Pada kesempatan yang lain saya ingin bermain musik atau membaca karya sastra. Semua itu saya lakukan karena semata-mata tidak ingin membendung desakan yang datang dari dalam diri saya. Semua desakan itu saya biarkan mengalir hingga melahirkan karya. Saya tidak terlalu memikirkan nilai karya. Karena penilaian datangnya dari luar bukan dari diri saya sendiri. Karya yang sudah ada saya kumpulkan, saya ingin membagi apresiasi pada Anda sambil saya terus berkarya selama masih ada dorongan nurani seni pada diri saya.
26.9.10
GILIMANUK-PADANGBAI
Kau tambatkan dua perahu
di dua pelabuhan
beda arus
dari Padangbai ke timur menantang matahari
mengelap silau tradisi
dari Gilimanuk ke barat menggulung angin
tak kenal pekat topan
di perjalanan debu
sudah terlanjur kulepas tali pengikat
karena hidup pilih mengalir
ke arah arus purnama
Derasnya memutar
melingkar di palung waktu
Jika kau tenangkan aku sejenak
boleh kupilih berbagi kejernihan
agar tak terlalu jauh jarak asalku
Ida Bagus Darmasuta, 2007
Kau tambatkan dua perahu
di dua pelabuhan
beda arus
dari Padangbai ke timur menantang matahari
mengelap silau tradisi
dari Gilimanuk ke barat menggulung angin
tak kenal pekat topan
di perjalanan debu
sudah terlanjur kulepas tali pengikat
karena hidup pilih mengalir
ke arah arus purnama
Derasnya memutar
melingkar di palung waktu
Jika kau tenangkan aku sejenak
boleh kupilih berbagi kejernihan
agar tak terlalu jauh jarak asalku
Ida Bagus Darmasuta, 2007
17.9.10
PEMBURU
Menembus jejeran batangbatang di hutan perburuan
Aku menjadi tonggak dikangkangi pohon hidup seusia bumi
begitu banyak titik sasaran bahkan di pelupuk mata
pastikan ini bagianku
kan kucari di tengahnya
di titik penghabisan
Biar kubentangkan busur sederas arus samudra selurus mata hati
Pastikan ini bagianku
Aku bukan Arjuna, anugerah pusaka di pertapaan perang
Aku bukan Lubdhaka, hilang dosa di yoga Ciwa
Aku pemburu menggigil diburuburu indah
Bagaimana menangkap tanpa terungkap
Justru indah
hulu yang mengairi akar-akar rasa
panah dari busur kecerdasan
Berburu
sebelum
jadi
abu
mu
?
Ida Bagus Darmasuta, 2007
Menembus jejeran batangbatang di hutan perburuan
Aku menjadi tonggak dikangkangi pohon hidup seusia bumi
begitu banyak titik sasaran bahkan di pelupuk mata
pastikan ini bagianku
kan kucari di tengahnya
di titik penghabisan
Biar kubentangkan busur sederas arus samudra selurus mata hati
Pastikan ini bagianku
Aku bukan Arjuna, anugerah pusaka di pertapaan perang
Aku bukan Lubdhaka, hilang dosa di yoga Ciwa
Aku pemburu menggigil diburuburu indah
Bagaimana menangkap tanpa terungkap
Justru indah
hulu yang mengairi akar-akar rasa
panah dari busur kecerdasan
Berburu
sebelum
jadi
abu
mu
?
Ida Bagus Darmasuta, 2007
16.9.10
PANGRUPAK
Seluas tanah yang segera menjelma kota
mengerang pangrupak di timbunan waktu
tangan siapa mengeras dalam tahta kayu ?
gagangnya membekas tangan kata
Seluas tanah yang segera menjelma peradaban
Tertimbun garis aksara di ladang persemadian
Tanganmukah yang akan menggapai
Lalu mencuci di setiap kesempatan kelu?
Memintal sejarah jadikan permadani jalan rasa
Dirajut pada lontar, daun tumbuh di pagi pertama
Pikiran merekah dan jiwa bercumbu dengan dewi kata
Kemudian pengrupak menggores jelas menjadi arah
Ini setelahnya, mengapa hanya menjadi tonggak tulang
Hanya daging dibalut kulit
Jiwa entah ke mana
Kemanusiaan entah apa
harkat ada di tumpukan mimpi-mimpi
Pangrupak mengkarat
Sekarat dielus anak cucu
Ida Bagus Darmasuta, 2007
Seluas tanah yang segera menjelma kota
mengerang pangrupak di timbunan waktu
tangan siapa mengeras dalam tahta kayu ?
gagangnya membekas tangan kata
Seluas tanah yang segera menjelma peradaban
Tertimbun garis aksara di ladang persemadian
Tanganmukah yang akan menggapai
Lalu mencuci di setiap kesempatan kelu?
Memintal sejarah jadikan permadani jalan rasa
Dirajut pada lontar, daun tumbuh di pagi pertama
Pikiran merekah dan jiwa bercumbu dengan dewi kata
Kemudian pengrupak menggores jelas menjadi arah
Ini setelahnya, mengapa hanya menjadi tonggak tulang
Hanya daging dibalut kulit
Jiwa entah ke mana
Kemanusiaan entah apa
harkat ada di tumpukan mimpi-mimpi
Pangrupak mengkarat
Sekarat dielus anak cucu
Ida Bagus Darmasuta, 2007
KATARSIS API
Jasad di pembaringan api ditangisi luka sendiri
Sebentar lagi menjadi pertiwi,
Menjadi apah,
menjadi teja,
menjadi bayu,
membumbung akasa
gigitan api sejengkal-sejengkal mengingatkan karma
sakitnya sejak bermula kelahiran
sudah berapa peristiwa diputuskan
ada yang teringat
tapi cenderung murung digulung mendung
inilah sejarah yang dipatri sendiri
kembali ke api
katarsis api
agar semua bersih mencari tempat sembunyi
Ida Bagus Darmasuta 2007
Jasad di pembaringan api ditangisi luka sendiri
Sebentar lagi menjadi pertiwi,
Menjadi apah,
menjadi teja,
menjadi bayu,
membumbung akasa
gigitan api sejengkal-sejengkal mengingatkan karma
sakitnya sejak bermula kelahiran
sudah berapa peristiwa diputuskan
ada yang teringat
tapi cenderung murung digulung mendung
inilah sejarah yang dipatri sendiri
kembali ke api
katarsis api
agar semua bersih mencari tempat sembunyi
Ida Bagus Darmasuta 2007
Langganan:
Postingan (Atom)