Welcome

WELCOME TO GUSADE FREDDY KREASI BLOGSPOT


Laman ini saya manfaatkan sebagai ajang "unjuk seni" yaitu, salah satu cara saya untuk menunjukkan apresiasi terhadap kesenian, terutama aktivitas berkesenian di Bali. Sebagai manusia biasa, saya merasa bahwa saya tidak mungkin melepaskan diri dari seni. Saya tidak menyangka tiba-tiba timbul dorongan untuk melukis, sekali waktu timbul keinginan untuk membuat ukiran, patung, Pada kesempatan yang lain saya ingin bermain musik atau membaca karya sastra. Semua itu saya lakukan karena semata-mata tidak ingin membendung desakan yang datang dari dalam diri saya. Semua desakan itu saya biarkan mengalir hingga melahirkan karya. Saya tidak terlalu memikirkan nilai karya. Karena penilaian datangnya dari luar bukan dari diri saya sendiri. Karya yang sudah ada saya kumpulkan, saya ingin membagi apresiasi pada Anda sambil saya terus berkarya selama masih ada dorongan nurani seni pada diri saya.

26.9.10

TIBA-TIBA SUDAH TIBA

duduk di sini
    sorot matanya kiri kanan
di depan pelinggih kiwa- tengen
Kau tak lagi mendengar apa yang ingin kaudengar
kau  tak lagi gundah lantang  ditikam umpatan
    tak risau apa pun tentang risau
Kau mengatasi makna

duduk di sini
    di panas api
aku ingin tidak merasa bara  hati
    di dingin air
aku ingin tak gigil  nyali
aku akan sempurna  rasa

di puncak tertinggi
 gunung Agung tidak berpihak
pada terik matahari  juga  binar bintang dan  rembulan
semua sinar menjadi kemilau di vibrasi Besakih
  
tiba-tiba sudah tiba
    berserah di kiwa
    berserah  di tengen
                                          Ida Bagus Darmasuta, 2007
GILIMANUK-PADANGBAI

Kau tambatkan dua perahu
    di dua pelabuhan
        beda arus
dari Padangbai ke timur menantang matahari
                mengelap silau tradisi
dari Gilimanuk ke barat menggulung angin
        tak kenal pekat topan
di perjalanan debu
sudah terlanjur kulepas tali pengikat
    karena hidup pilih mengalir
  ke arah  arus  purnama
        Derasnya memutar
    melingkar di palung waktu
Jika kau tenangkan aku sejenak
boleh kupilih berbagi kejernihan
agar tak terlalu jauh jarak asalku
                                                  
                                                Ida Bagus Darmasuta, 2007

17.9.10

PEMBURU

Menembus jejeran batangbatang di hutan perburuan
Aku menjadi tonggak dikangkangi pohon hidup seusia bumi
begitu banyak titik sasaran bahkan di pelupuk mata
pastikan ini bagianku
kan kucari di tengahnya
di titik penghabisan
Biar kubentangkan busur sederas arus samudra selurus mata hati
Pastikan ini bagianku
Aku bukan Arjuna, anugerah pusaka di pertapaan perang
Aku bukan Lubdhaka, hilang dosa di yoga  Ciwa
Aku pemburu  menggigil diburuburu  indah
Bagaimana menangkap tanpa terungkap
Justru indah
 hulu yang mengairi akar-akar rasa
 panah dari busur kecerdasan
Berburu
sebelum
jadi
abu
mu
?

                                                Ida Bagus Darmasuta, 2007

16.9.10

PANGRUPAK

Seluas  tanah yang segera menjelma  kota
mengerang  pangrupak  di timbunan waktu
tangan siapa mengeras dalam tahta kayu ?
gagangnya membekas tangan kata

Seluas tanah yang segera menjelma peradaban
Tertimbun garis aksara di ladang persemadian
Tanganmukah yang akan menggapai
    Lalu mencuci  di setiap kesempatan kelu?
Memintal sejarah jadikan  permadani jalan rasa

Dirajut pada lontar, daun tumbuh di pagi pertama
Pikiran merekah dan jiwa bercumbu dengan  dewi kata
Kemudian  pengrupak menggores jelas menjadi arah

Ini setelahnya, mengapa hanya menjadi tonggak tulang
Hanya daging dibalut kulit
                Jiwa entah ke mana
            Kemanusiaan entah apa
        harkat ada di tumpukan mimpi-mimpi
Pangrupak mengkarat
    Sekarat dielus anak cucu

    
                                                      Ida Bagus Darmasuta, 2007
KATARSIS API 

Jasad di pembaringan api  ditangisi luka sendiri
Sebentar lagi menjadi pertiwi,
Menjadi apah,
menjadi teja,
menjadi bayu,
membumbung akasa
gigitan api sejengkal-sejengkal mengingatkan karma
sakitnya sejak bermula kelahiran
sudah berapa peristiwa diputuskan
        ada yang teringat
        tapi cenderung murung digulung mendung
inilah sejarah yang dipatri sendiri
kembali ke api
    katarsis api
agar semua bersih mencari tempat  sembunyi


                                                  

                                                                      Ida Bagus Darmasuta 2007